KARAKTER UNGGUL SEBAGAI IDENTITAS ‘UNIK’ PARIWISATA

Pariwisata telah diklaim menjadi sebuah fenomena sosial dan ekonomi di seluruh dunia. UNWTO (United Nations of World Tourism Organisation) sebagai lembaga yang membidangi pariwisata di PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) secara resmi juga telah merilis laporan resmi tentang manfaat pariwisata antara lain: melindungi budaya, melindungi lingkungan, membuka kesempatan usaha baru, mendukung pertumbuhan ekonomi, mendukung pembangunan berkelanjutan, menciptakan lapangan pekerjaan dan mendorong perputaran barang dan jasa di seluruh dunia.

Saat ini, volume bisnis pariwisata telah sama atau bahkan melampaui ekspor minyak, produk makanan atau kendaraan. Pariwisata juga telah menjadi salah satu pemain utama dalam perdagangan internasional, dan pada saat yang sama merupakan salah satu sumber pendapatan utama bagi banyak negara berkembang. Pertumbuhan ini berjalan seiring dengan meningkatnya diversifikasi dan persaingan antar destinasi wisata yang dimiliki masing-masing Negara.

Dengan kenyataan ini maka pariwisata secara otomatis menjadi perhatian utama bagi sebagian besar (atau semua) Negara di dunia untuk mendukung pembangunan sehingga berbagai macam strategi pemasaran diluncurkan untuk menarik minat wisatawan berkunjung. Dampak spending atau pengeluaran wisatawan untuk berbelanja sebagai akibat dari kedatangan wisatawan inilah yang diharapkan oleh Negara destinasi.

Beberapa penelitian terkait dengan besarnya pengeluaran wisatawan banyak menarik perhatian akademisi dan praktisi karena ternyata penentuan tujuan wisata oleh wisatawan masih sangat dipengaruhi oleh biaya untuk menikmati destinasi wisata. Terkait dengan hal tersebut, salah satu organisasi yaitu Mastercard sebagai perusahaan keuangan dan teknologi global yang menghubungkan konsumen, produsen dan pemerintah pada tahun 2018 mengeluarkan hasil penelitian tentang daftar kota yang paling banyak dikunjungi wisatawan di seluruh dunia (Mastercard, 208; Forbes, 2018). Yang cukup menarik dari hasil penelitian tersebut adalah Kota Bangkok di Thailand menduduki peringkat pertama yang dikunjungi oleh 20,05 juta wisatawan, diikuti oleh London, Paris, Dubai, Singapore, New York dan Kuala Lumpur. Sementara Bali menempati urutan ke 20 dengan jumlah kunjungan 8,3 juta wisatawan.

Namun demikian, biaya yang murah pasti bukanlah satu-satunya faktor yang membuat Kota Bangkok menjadi destinasi yang paling favorit. Seorang filsuf pernah mengatakan bahwa ‘persaingan dari luar tidak begitu menakutkan dibandingkan inefisiensi, ketidakramahan dan pelayanan buruk dari dalam’, dengan kata lain, Kota Bangkok memenangkan persaingan untuk menjadi kota wisata pilihan wisatawan di seluruh dunia karena memiliki kekuatan internal (efisiensi, keramahan dan pelayanan) yang lebih baik dibandingkan dari kota lain di seluruh dunia. Kekuatan internal ini merupakan efek dari karakter sumber daya manusia yang dimiliki, bukan hanya di sektor wisata tetapi di semua sektor yang mendukung pariwisata. Oleh karena itu, karakter manusia perlu dibangun untuk mendukung pembangunan pariwisata.

Rhama (2019) menyatakan bahwa karakter dapat dijelaskan melalui akronim K-A-R-A-K-T-E-R, dimana masing-masing huruf mempunyai makna tertentu yaitu: (K)esopananan, (A)kurasi, (R)espek, (A)kal sehat, (K)erapian, (T)anggung jawab, (E)mpati, (R)amah. Karakter inilah yang perlu dibangun dan dimiliki oleh masyarakat sebagai identitas unik dalam sebuah destinasi wisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya (2018) juga pernah mengatakan bahwa, yang membedakan satu bangsa dengan bangsa lainnya adalah manusianya dan yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya adalah karakter dan kompetensinya.

Karakter manusia ini harus menjadi perhatian besar dalam pembangunan pariwisata di Indonesia, yang tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah untuk membentuknya, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan lingkungan. Siapa tahu suatu saat nanti Indonesia atau secara khusus Kalimantan Tengah menjadi destinasi wisata terfavorit di dunia, tidak hanya karena modal alamnya yang luar biasa, tetapi juga karena karakter masyarakatnya yang memiliki nilai unggul untuk mendukung pariwisata.

Obrolan di atas juga telah saya diskusikan di Bimbingan Teknis Pariwisata Goes to School bersama Kementerian Pariwisata di Palangka Raya bulan Maret 2019. Dan di bawah ini oleh-oleh fotonya, Salam Pariwisata Indonesia!..

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s