KETELADANAN…Dulu mungkin tidak tau artinya, sekarang pura-pula lupa

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara

Tugas utama dosen sebenarnya tidak jauh berbeda dengan guru. Perbedaannya hanya pada posisi dimana dosen menjadi mentor atau berdampingan (bukan di pelaminan) dengan mahasiswa dalam hal pendidikan. Berbeda dengan guru yang posisinya (sesuai pengalaman saya) lebih pada memberitau ataupun mengajar di depan. Oleh karena itu posisi dosen sebenarnya hampir setara atau lebih menjadi partner dan secara implisit menjadi contoh/teladan bagi mahasiswa (siswa yang sudah maha/maha-siswa).

Namun demikian, kata ‘teladan’ nampaknya agak bias di tengah pendidikan tinggi di Indonesia. Tidak sedikit dosen yang lupa memberikan keteladanan bahkan merasa menjadi seorang dewa pendidikan yang mengetahui segalanya dan berhak bicara karena kebetulan diakui masyarakat berprofesi sebagai dosen yang biasanya bicara berdasarkan data dan dasar ilmiah. Saya sebagai seorang dosen juga kadang hanya ingat mengajar (memberikan ilmu pengetahuan) namun lengah dalam mendidik mahasiswa.

Dengan demikian, dosen yang notabene juga seorang guru karena jabatan fungsional tertingginya adalah Guru Besar perlu mengilhami lagi bagaimana sifat dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara yang memiliki tiga semboyan yang bisa dipegang oleh dosen untuk mendidik mahasiswanya, yaitu:
Pertama: Ing ngarsa sung tulada. Artinya, berada di depan untuk memberi teladan. Dosen harus menjadi contoh dan panutan bagi mahasiswanya.
Kedua: Ing madya mangun karsa. Artinya berada di tengah untuk membangun kehendak atau niat. Dosen harus membangun semangat dan ide-ide, bekerja sama dengan mahasiswa untuk berkarya dan memberikan solusi yang terbaik bagi masyarakat.
Ketiga : Tut wuri handayani yang artinya berada di belakang memberikan dorongan. Dosen perlu untuk terus-menerus menuntun, menopang, dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.

Berdasarkan semboyan Bapak Pendidikan itu terlihat jelas bahwa sebenarnya perilaku dosen akan menggambarkan karakter dan menjadi sarana penyampaian pesan paling efektif bagi peserta didik. Perilaku ini jugalah yang akan menjadi teladan bagi kehidupan sosial mahasiswa.

Dalam semboyan tersebut, Ki Hajar Dewantara juga menyampaikan beberapa pesan yaitu:
(i) Jangan pernah merasa cukup atas ilmu yang telah didapatkan. Dengan selalu semangat belajar dapat memperluas pengetahuan dan menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
(ii) Mengeyam pendidikan bukan hanya soal intelektualitas, tapi juga untuk membentuk karakter atau attitude yang baik dan benar. Oleh karena itu, belajar bukan hanya tentang nilai yang bagus, tapi juga tentang kepribadian atau moralitas. belajarlah untuk mendapat ilmu bukan mengejar nilai berbasis angka.
(iii) Waktu yang lapang dan fasilitas yang memadai digunakan dengan sebaik-baiknya, sebab belum tentu semua orang memiliki kesempatan yang sama.
(iv) Potensi yang ada dalam diri harus dikembangkan, agar menjadi kelebihan yang menonjol atau menjadi ciri khas siapa dirimu dengan cara mengikuti kegiatan seperti berorganisasi, magang, ikut seminar, yang berhubungan dengan minat dan bakat yang dimiliki.
(v) Tidak Mudah Menyerah.

Oleh karena itu, untuk mendidik maka dosen tetap harus memberikan keteladanan kepada mahasiswanya.

You must take personal responsibility. You cannot change the circumstances, the seasons or the wind, but you can change yourself. That is something you have to charge of. -Jim Rohn-

Referensi: Kompas.com, Gischa, “Sikap Teladan dari Ki Hajar Dewantara”; Prianganmurtinews, Ki Hajar Dewantara-Sebuah Inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s