ASITA vs Garuda Indonesia?…Siapa kuat?..

asita vs garudaBulan Juli-Agustus biasanya adalah musim sibuk bagi para pelaku usaha biro perjalanan (baca: anggota Asita) apalagi kali ini juga bertepatan dengan libur lebaran 2017. Bulan ini dengan demikian merupakan musim untuk menarik nafas lega karena penjualan produk wisata biasanya meningkat. Namun demikian, ternyata euforia penjualan paket wisata tersebut masih terganjal pikiran berkaitan kerja sama dengan pihak Garuda Indonesia sebagai salah satu mitra perjalanan wisata via udara..

Alotnya negoisasi kerja sama antara ASITA (asosiasi travel agen resmi di Indonesia) dan Garuda ini dimulai ketika Garuda Indonesia pada tanggal 1 Januari 2017 hendak menerapkan pengurangan komisi penjualan yang diberikan kepada intermediarisnya sehingga otomatis mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang diperoleh para pelaku usaha penjualan tiket (Biro Perjalanan/travel agen). Tindakan BUMN Garuda ini disinyalir karena adanya isu bahwa maskapi kebanggan Indonesia tersebut sudah lama terancam bangkrut (http://breakingnews.co.id/read/garuda-indonesia-terancam-bangkrut-agen-distributor-dikorbankan). Tetapi tentu saja beberapa travel agen mengajukan protes atas keputusan tersebut bahkan telah terjadi pemboikotan penjualan tiket Garuda di beberapa tempat (Papua, Padang, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Riau) sehingga isu ini kemudian dibawa ke forum nasional tempat mereka bernaung yaitu ASITA. Namun demikian, dari pantauan grup pesan singkat forum ASITA yang beredar, terlihat bahwa pihak Garuda keukeh untuk menjalankan kebijakannya.

Tentu saja dari perspektif pemilik ‘produk’ (Garuda Indonesia), mengurangi komisi travel agen adalah salah satu cara untuk melakukan efisiensi. Namun tindakan ini dinilai tidak konsisten dilakukan oleh manajemen Garuda karena disatu sisi menurunkan komisi intermediaries tetapi diisi yang lain memberikan diskon (bentuk lain komisi) besar kepada pelanggan corporate (misalnya Pemerintah Daerah atau Bank). Memang benar adanya ketika ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa bisnis tidak mengenal toleransi. Akan tetapi, bisnis yang dilakukan antara Garuda Indonesia dan travel agen anggota ASITA bukanlah bisnis korporasi dengan saluran distribusinya yang bisa datang dan pergi atau on off sesuai kebutuhan korporasi (baca: http://www.tribunnews.com/bisnis/2017/06/16/asnawi-bahar-kami-keberatan-dengan-perubahan-pemberian-komisi-garuda).

Hubungan antara Garuda Indonesia sebagai BUMN dan ASITA sebagai mitra resmi pemerintah dalam bidang pariwisata (yang anggotanya mayoritas Usaha Micro, Kecil dan Menengah) tentu memiliki roh yang berbeda karena keduanya memiliki tujuan untuk memajukan pariwisata di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari Annual Report Garuda 2015 bahwa misi Garuda Indonesia sebagai perusahaan penerbangan pembawa bendera bangsa (flag carrier) Indonesia yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan layanan yang professional. Sedangkan misi ASITA yaitu meningkatkan peran anggota sebagai salah satu pelaku utama pariwisata nasional, penghasil devisa dan peningkatan pendapatan serta pengembangan kapasitas usaha berdaya saing global. Tentu diharapkan bahwa Garuda Indonesia yang membawa nama bangsa seyogyanya dapat menanamkan rasa nasionalisme yang dibanggakan oleh stakeholdernya termasuk para pelaku usaha biro perjalanan. Oleh karena itu, segala bentuk kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama sebaiknya dinegosiasikan secara mendetail apalagi jika ada isu kebangkrutan yang telah dibantah dirutnya (http://medan.tribunnews.com/2017/06/16/benarkah-garuda-indonesia-terancam-bangkrut-ini-jawaban-dirut). jadi sebenarnya alasan pengurangan komisi bagi mitra penjualan khususnya travel agen belum terbaca dengan dengan jelas.

Adanya rencana boikot nasional terhadap penjualan tiket Garuda Indonesia oleh para travel agen dibawah naungan ASITA apabila pihak Garuda Indonesia tetap menjalankan kebijakan pemotongan komisi tentu memberikan efek negatif tidak hanya kepada penumpang Garuda itu sendiri, tetapi juga kepada perkembangan dunia pariwisata Indonesia karena akan ada pihak lain (baca: negara lain) yang gembira melihat lemahnya sinergi antara flag carrier Indonesia dengan stakeholder utamanya.

Kerugian lemahnya komunikasi ini akan dirasakan secara nasional, bahkan internasional, dan tidak tepat lagi rasanya menunjukkan siapa yang lebih kuat karena keduanya saling membutuhkan. Garuda Indonesia bagaikan ‘bunga’ dan ASITA bagaikan ‘kawanan lebah’ yang membantu penyerbukan ‘Bunga’ yang dapat memberikan warna indah bagi pariwisata di Indonesia. Dengan demikian perlu kiranya segala keputusan yang diambil oleh salah satu pihak dibicarakan bersama dengan kepala dingin demi pariwisata Indonesia yang lebih baik.

One thought on “ASITA vs Garuda Indonesia?…Siapa kuat?..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s