Branding pariwisata, mudah (teorinya) dan sulit (prakteknya)

Sudah beberapa minggu ini saya aktif mengikuti seminar, khususnya seminar atau bimbingan teknis pariwisata baik sebagai peserta atau narasumber. Tujuan diadakannya seminar adalah diseminasi atau penyebaran informasi, jadi tentu saja banyak informasi yang saya dapatkan dengan mengikuti seminar-seminar tersebut. Ikut seminar juga bagus untuk relasi lho, bisa bertemu kenalan baru, bertemu pemuda-pemuda Kalteng, sampai bertemu wakil saya di DPR-RI (bukankah saya itu rakyat dan Mas Asdy Narang wakil rakyat kan?!hehehe…). Biar gak hoax lihat foto-foto di bawah ini, siapa tau bisa menginspirasi diri agar bisa lebih baik daripada saya, ehemmm….

IMG_0184Bersama Beberapa Boss Dinas Pariwisata Palangka Raya, Palangka Raya dan KotimIMG_0178IMG_0235

IMG_0250

Namun satu hal yang cukup menarik perhatian saya dalam beberapa diskusi seminar pariwisata yang saya ikuti adalah kata ‘branding pariwisata’. Sebenarnya kata branding lebih banyak digunakan dalam bidang ekonomi dan bisnis, namun bukankah segala hal lebih mudah dilihat dari sudut pandang kedua bidang tersebut? Dalam bidang ekonomi dan bisnis, branding adalah sebuah janji, yang dapat menginformasikan produk dan jasa yang dimiliki kepada konsumen, khususnya untuk menunjukkan perbedaan yang dimiliki jika dibandingkan dengan kompetitor (Kottler & Keller, 2015).

Branding pada akhirnya juga merambah sektor pariwisata. Kegiatan pariwisata yang berkembang pesat menunjukkan bahwa wisata dianggap sebagai salah satu simbol kualitas hidup, apalagi kegiatan wisata dengan multipliers effect-nya telah terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Oleh karena itu semua daerah mulai bersaing untuk menarik wisatawan agar berkunjung dan tinggal di daerah tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan banyaknya pilihan obyek wisata maka kata branding dalam dunia pariwisata mulai sering digunakan untuk menunjukkan keunggulan sebuah destinasi pariwisata. Sebagai contoh, ketika kita berbicara tentang Bali, maka secara umum yang tersirat dibenak kita adalah sebuah daerah yang memiliki penari Bali, pura ataupun pantai. Ketika kita berdiskusi tentang Jakarta, maka yang tergambar dalam benak kita adalah Tugu Monas (hampir saja tersaingi oleh Alexis). Atau contoh lain, ketika kita berdiskusi tentang London, maka gambar yang lewat secara cepat adalah jembatan Tower Bridge atau jam Big Ben. Jadi kira-kira apakah yang terlintas di benak saat berdiskusi tentang Kalimantan Tengah? Bisa saja orang utan atau hutan ataupun gambaran lainnya. Gambaran-gambaran itulah yang menjadi branding atau identitas sebuah daerah wisata. Identitas yang diinginkan harus dibuat oleh daerah yang bersangkutan dan digunakan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Apabila sebuah kota tidak membranding wilayahnya, maka masyarakatlah yang akan menyematkan label pada daerah tersebut dan biasanya berkonotasi negatif seperti Kabupaten Banyuwangi yang dulu memiliki label kota santet; atau Bogor sebagai kota angkot atau kota hujan. Tentu saja semua bisa berubah seperti saat ini Banyuwangi membranding pariwisatanya dengan ‘blue fire’ atau Bogor dengan ‘Kota Hijau’-nya. Namun demikian tentu saja diperlukan komitmen pemerintah khususnya kepala daerah sebagai CEO (chief executive officer) untuk membangun identitas wilayah yang dipimpinnya.

Branding dalam industri pariwisata tidak hanya terbatas pada obyek atau destinasi tetapi juga bisa pada sumber daya manusianya. Baik praktisi maupun akademisi pariwisata juga harus memiliki identitas unik agar memberikan nilai lebih dan berbeda dengan manusia pariwisata lainnya. Sebagai contoh, seorang pemandu wisata (guide) yang bisa berbahasa Inggris tentu sudah sangat baik, tetapi bukan sesuatu yang istimewa karena sudah banyak pemandu wisata yang dapat berbahasa Inggris. Menjadi sebuah hal yang istimewa apabila ada pemandu wisata yang sanggup berbahasa Inggris sekaligus paham budayanya sehingga yang bersangkutan pantas disebut sebagai ahli pemandu wisata Inggris. Itu adalah sebuah contoh branding manusia pariwisata, seseorang yang tidak hanya sekedar ‘bisa’, tetapi harus fokus sehingga menjadi ‘ahli’ dalam bidangnya.

Bidang pariwisata masih banyak menawarkan kesempatan dan peluang untuk digunakan sebagai sarana membranding sumber daya manusia. Hal ini disebabkan kegiatan pariwisata yang lintas sektor dan juga karena perkembangan pariwisata masih sangat luas. Branding pariwisata adalah sebuah kata yang mudah diucapkan (teorinya) tetapi sulit dalam prakteknya yang sangat membutuhkan KISS ME (Koordinasi, Integrasi, Simplikasi, Sinkronisasi dan Mekanisme Kerja).

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s