Nilai untuk mahasiswa

Beberapa minggu ini saya sibuk dengan mengoreksi lembar jawaban mahasiswa dan memberi penilaian. Sudah begitu, masih sibuk pula harus menginput ulang ke sistem online baru yang sedang diprakarsai fakultas. Meskipun demikian, tentu sistem online tersebut harus didukung karena mendukung transparansi, kecepatan dan ketepatan. Lagipula, fakultas kami adalah yang pertama kali mengaplikasikan sistem online di semua fakultas  yang ada di Universitas Palangka Raya dipadahal usia universitas ini lebih tua daripada saya. Sebenarnya sih hanya masalah mau atau tidak mau, bukan bisa dan tidak bisa. Apalagi jaman sudah berubah dan semua harus mendisrupsi diri kalau mau survive. Jadi tantangan di atas saya anggap saja seperti belajar naik sepeda, pada awalnya memang susah, namun kalau sudah bisa naik sepeda pasti menyenangkan. Semua harus berubah, berubah demi kebaikan apalagi didorong oleh adanya teknologi, maka semua dosen juga harus siap. Kalau dosennya jadul ya susah ngajarin mahasiswanya. Tapi kalau jadul karena gak punya facebook seperti saya ya gapapa kali ya (ngeles mode on), asal jangan jadul cuman untuk masukin nilai ke sistem.

Ketika semua nilai sudah berhasil diinput di sistem dan dipublish barulah keributan dimulai. Mahasiswa mulai sering bertanya, mengapa saya dapat nilai E, D, C bahkan ada yang nanya koq hanya B? Seingat saya dulu, semasa jadi mahasiswa S1, mau bertemu dosen aja rasanya sudah dag dig dug, apalagi bertanya nilai akhir. Dosen ibarat Dewa Bumi, mahasiswa jangan mendekat dan terima nasib. Apalah saya dulu saat S1, hanya bagaikan remah-remah rengginang di blek Kong Guan. Tapi sekarang berbeda, eranya keterbukaan karena mahasiswa boleh saja bertanya kepada dosen. Bebas. Hehehehe…Inilah era keterbukaan, era jaman now..

Namun yang lebih mengagetkan lagi, bukan mahasiswa yang bertanya nilai, tetapi orangtua mahasiswa. Hal ini saya alami sendiri dimana orangtua menanyakan nilai putranya. Sebelum saya menghakimi yang bersangkutan, tentu saja saya harus melihat dari perspektif orang tua yang menurut saya dilandasi rasa sayang yang amat sangat. Prediksi saya ternyata benar, orang tua ybs meminta bantuan agar nilai anaknya bisa dirubah karena ada alasan medis dibalik itu. Namun apa boleh buat saya tidak bisa memenuhinya karena permintaan ini dilakukan di akhir perkuliahan dimana nilai sudah diupload ke sistem. Kasih sayang yang berlebihan justru tidak dapat menolong anak tersebut tetapi sang anak justru harus dipersiapkan menghadapi kenyataan di dunia yang semua serba tidak mudah dan harus diperjuangkan. Sebaiknya beritahukan kepada fakultas di awal perkuliahan agar ada perlakuan khusus saat membimbing mahasiswa yang bersangkutan untuk mengerjakan tugas-tugas lain yang memiliki bobot sama dengan ujian. Namun tentu dengan catatan harus ada usaha dari mahasiswa ybs untuk mengerjakannya.

Sedikit atau banyak masih ada yang belum menyadari bahwa sekolah atau kuliah adalah sebuah proses, bukan hasil akhir yang berupa nilai. Nilai hanyalah instrumen pemahaman, bukan sebuah esensi yang akan menentukan keberhasilan mahasiswa di masyarakat. Proses pendidikan itu sangat penting.

20151016_092014

Lulus atau gagal dalam mata kuliah itu normal dan harus dipahami sebagai bagian dari proses. Seseorang yang punya gelar pehade aja pernah dapat nilai E. Contohnya? ya saya!…

Salam belajar dan berproses guys…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s