Melanjutkan sekolah keluar negeri dengan beasiswa (DIKTI dan LPDP)

Beberapa hari yang lalu Abah Hamid (www.abdul-hamid.com) menulis tentang melanjutkan sekolah keluar negeri. Tulisannya sangat lengkap dan selalu memberi pencerahan. Namun perjalanan beliau mencari sekolah agak berbeda dengan saya yang sangat cupu dalam dunia perdosenan sehingga saya juga mau membagi pengalaman tersebut.

Saya adalah orang yang berpikir pragmatis dalam menjalani kehidupan, jadi jujur saja mungkin sebenarnya saya tidak cocok jadi dosen yang harus paham konsep dan teori-teori yang luar biasa hebatnya. Saya harus melihat tujuan, baru kemudian memikirkan strateginya, saya tidak tau apakah sesuai dengan teori atau tidak, yang penting sih sampai dan caranya tepat. Demikian juga pada saat saya mencari sekolah di luar negeri dan berharap dapat beasiswa. Nah, ini adalah pengalaman saya waktu ingin mendapatkan beasiswa (khusus DIKTI dan LPDP-BUDI) keluar negeri. Oya, saya sampaikan selamat untuk anda yang sudah menjadi dosen yang mempunyai Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), karena pada saat ini anda memiliki prioritas untuk melanjutkan sekolah S3 keluar negeri dengan beasiswa di atas.

Konsep untuk mendapatkan beasiswa keluar negeri khususnya untuk melanjutkan S3 menurut saya masih cukup mudah selama memenuhi semua standar persyaratan (frasa ‘mudah’ mungkin subyektif juga karena saya telah mendapatkan beasiswa). Ada konsep yang perlu sangat diperhatikan, yaitu beasiswa bisa didapatkan kalau kita sudah diterima oleh salah satu universitas di luar negeri, bukan sebaliknya. Tapi bukan ‘on going’ atau kita sudah bersekolah di universitas luar negeri lalu mendaftar beasiswa. Kalau kita sudah melakukan perkuliahan di universitas di luar negeri kecil kemungkinannya kita mendapat beasiswa tersebut. Dengan demikian, mencari sekolah di luar negeri adalah yang pertama dan utama sebelum mencari beasiswa.

Untuk mencari sekolah S3 di luar negeri, ada 2 hal utama yang harus disiapkan yaitu kemampuan bahasa Inggris dan Proposal.

  1. Kemampuan Bahasa Inggris bisa diperlihatkan melalui tes TOFL atau IELTS. Keduanya harus internasional lho, bukan tes institusional. Saya dulu mengambil tes IELTS di IALF. Silahkan dipilih mau tes yang mana, keduanya sama saja. Yang penting adalah berlatih membiasakan diri mengerjakan soal-soalnya. Usahakan mendapatkan nilai min 6,5 untuk IELTS. Setelah tes, maka kita akan mendapatkan sertifikat yang berlaku selama 2 tahun. Apa tantangannya mencari sertifikat nilai Bahasa Inggris? Diri sendiri. Konsistensi kita untuk ikut kursus, belajar, waktu yang lebih menyenangkan buat jalan-jalan ataupun dana yang gak kunjung terkumpul untuk bayar les dan tes karena habis buat beli pulsa atau shopping atau kebutuhan hidup lainnya sering menjadi hambatan.
  2. Kalau proses tes Bahasa Inggris sudah dijalankan, maka pembuatan proposal penelitian sebaiknya juga dilakukan. Tidak perlu menunggu mendapatkan sertifikat tes bahasa Bahasa Inggris, proses pembuatan proposal penelitian bisa dilakukan bersamaan dengan proses belajar bahasa Inggris. Saran saya, ambil topik penelitian yang ada di lingkungan anda, regional sudah cukup. Selain gak repot nantinya untuk mencari data, hasil penelitian anda juga bermanfaat bagi lingkungan anda.

Kalau keduanya sudah dimiliki (misal nilai IELTS 6,5 dan Proposal sudah ada) saya sampaikan selamat karena anda 80% sdh mendapatkan beasiswa untuk sekolah S3 di luar negeri. Lah, kan belum dapat universitas dan beasiswa? Betul. Mencari universitas bukan urusan yang memusingkan buat kita lagi. Sekarang kan banyak agen konsultan sekolah diluar negeri. Pilih saja salah satu dari agen-agen tersebut, tentunya yang memiliki universitas yang masuk dalam daftar pemberian beasiswa dari DIKTI atau LPDP. Dulu saya menggunakan jasa konsultan pendidikan SUN EDUCATION dalam hal ini saya nggak dibayar buat promosi lho ya untuk mencarikan sekolah saya di University of Central Lancashire (UCLan), UK. Konsultan yang mewakili universitas tujuan pasti tidak menarik biaya konsultasi dengan kita alias gratis. Kalau ada biaya yang diminta, itupun biaya wajar seperti menterjemahkan dokumen. Mereka akan melakukan komunikasi dengan universitas, mencarikan profesor dan lain sebagainya yang memiliki topik sesuai dengan penelitian kita. Kita santai aja sambil menunggu persyaratan lanjutan (yang enggak susah) apabila diminta oleh konsultan pendidikan.

Proses kita untuk mendapatkan universitas tujuan nggak lama koq, biasanya dalam rentang waktu 6 bulan kita bisa mendapatkan tawaran sekolah S3 yang berlaku selama setahun apabila mau diambil. Namun tawaran tersebut harus ‘unconditional offer’ alias diterima sekolah tanpa syarat. Terkadang ada juga ‘conditional offer’ karena harus membayar uang muka tapi ini normal dan tidak jadi masalah.

Dalam hal ini kita sudah mendapatkan Nilai Tes Bahasa Inggris dan tawaran dari universitas (LoA, Letter of Acceptance) maka 90% kita sudah dapat beasiswa. Sekarang tinggal berdoa untuk menunggu pembukaan pendaftaran beasiswa dari LPDP (BUDI) dan DIKTI saja. Meskipun persyaratan yang diminta sangat banyak, tapi mudah dicari koq karena 90% persyaratan yang diperlukan untuk mendapatkan beasiswa sudah di tangan.

Jadi berdasarkan pengalaman saya untuk mendapatkan beasiswa sekolah S3 di luar negeri itu, tantangan mayoritas adalah ‘pertempuran’ dengan diri sendiri untuk mengatur waktu, konsistensi dan tekun dalam segala hal berkaitan dengan studi. Pada umumnya yang membuat gagal dalam memperoleh beasiswa sampai dengan menyelesaikan studi itu bukan faktor kognitif tetapi faktor non teknis dari diri sendiri.

Kedewasaan kita akan diuji dalam beberapa tahun proses sekolah. Mulai dari niat sekolah, sampai ujian viva doctorate. Lihat foto saya sebelum dan sesudah pehade ini, berubah nggak?iya donk, topinya beda dan tampaknya lebih dewasa setelah pehade. Jelas aja, kan tambah umur pakdhe.

Bhayu pehade

Dosen masih cupu

Bhayu dosen

Dosen cupu banget

Konsultan pendidikan membantu kita masuk ke universitas yang diinginkan dan Pemerintah RI memberikan beasiswa supaya kita bisa studi. Mereka menjamin kita bisa masuk universitas di luar negeri tetapi hanya kita sendiri yang bisa memberikan jaminan keluar dari universitas tersebut dengan gelar S3, bukan pihak lain. Semoga sukses yah…

Salam pendidikan!…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s