Konferensi Internasional di Budapest

Pada bulan Agustus 2019 saya diberi kesempatan untuk mengikuti International Conference of Sustainable Tourism Management di Budapest, Hongaria. Saya menggunakan penerbangan Turkish Airlines dalam perjalanan tersebut dan singgah di Istanbul untuk transit. Yang cukup surprise bagi saya adalah saat transit di Istanbul sebagai airport baru dengan nama Istanbul Grand Airport (IGA) saya memiliki kesempatan untuk mendapatkan tour gratis, saya tulis lagi…GRATIS.

Tour di Istanbul itu diberikan kepada para penumpang yang transit dengan menggunakan maskapai Turkish Airline dan sepertinya ini promosi dari pemerintah untuk menarik wisatawan mengenal negara tersebut. Beberapa pilihan tour bahkan memberikan makan pagi dan siang untuk peserta yang lagi-lagi gratis. Dan yang tidak kalah penting, pelayanan yang diberikan baik tour, makanan, driver, guide dan bagian customer service dilakukan dengan sepenuh hati. Artinya, fasilitas cuma-cuma tersebut tidak diberikan asal-asalan sehingga saya tidak merasakan bosan saat menunggu waktu transit yang panjang.

Perjalanan ke Budapest dari Istanbul hanya memakan waktu 2 jam dan saya tiba kira-kira pukul 8 malam langsung menuju ke hotel Mercure tempat konferensi dilaksanakan. Meskipun konferensi dilakukan keesokan harinya, namun pendaftaran telah dibuka dan peserta konferensi berjumlah 17 orang dari berbagai negara mulai dari Amerika, Canada, Eropa, Afrika, Jepang, Taiwan, China, India, Maldives dan Indonesia yang saya lihat dari daftar registrasi.

Saya mempresentasikan sebuah paper dengan judul Psychological Costs on Tourism Destination atau Biaya Psikologis Pada Destinasi Wisata. Penelitian saya ini pada intinya menceritakan bahwa wisatawan tidak hanya memikirkan biaya finansial/moneter namun juga memiliki beban psikologis untuk mengunjungi sebuah destinasi wisata.

Presentasi yang dibawakan oleh para peserta sangat menarik dan memiliki tingkat kebaruan meskipun tidak terlalu besar. Sebagai contoh dalam presentasi tersebut ada seorang profesor yang bilang bahwa tren musik pendukung di film layar lebar telah berubah dari orkestra menjadi musik modern. Kadangkala kita sudah tahu hal tersebut tetapi karena belum ada yang menuliskan maka belum ada penemunya. Dalam dunia ilmiah, penemu adalah orang yang pertama menuliskan atau mencatatkan atau merekam peristiwa sehingga ada bukti otentik yang bisa dipertanggungjawabkan. Itulah pelajaran yang dapat saya ambil dari konferensi ini. Hal sepele apapun haruslah ditulis dan direkam karena siapa tahu kita jadi penemu, hehehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s