Disiplin koq susah ya?…

Budaya jam karet sepertinya lama-lama ditoleransi masyarakat umum khususnya di Indonesia baik di acara formal ataupun acara sosial. Sebagai contoh, (i) pada tanggal 9 Spetember 2017 salah seorang keluarga di Surabaya mengundang acara kebaktian keluarga yang seharusnya dimulai jam 19.00 WIB, prakteknya jam 19.30 WIB baru dimulai dengan alasan banyak tamu yang terjebak macet. (ii) acara yudisium dan pelepasan mahasiswa Fisip UPR pada tanggal 21 Agustus 2017 juga molor 45 menit dari jadwal undangan. (iii) yang terakhir pada hari Sabtu, 16 September 2017 kemarin ada pertemuan yang katanya digelar secara  rutin sebagai sarana untuk sharing informasi Fisip UPR pun masih ada yang terlambat datang (1 jam aja koq).

Kata disiplin mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan, apalagi kalau kita harus jadi role model alias teladan. Namun demikian inilah kenyataan yang ada di Indonesia. Saya pernah mendengar curhat mahasiswa katanya sudah bosen mendengar nasehat harus disiplin tetapi tetap saja banyak yang tidak disiplin. Mau bagaimana lagi, kadang-kadang manusia yang berteriak-teriak disiplin pada orang lain terkadang tidak bisa jadi teladan dalam kedisiplinannya. Namun, daripada kita berkeluh kesah akan orang lain apa tidak sebaiknya kita tidak perlu menuntut orang lain untuk disiplin sebelum kita sendiri melakukannya?..

Saya sendiri sudah mulai mempertanyakan kedisiplinan diri sendiri. Tadinya saya komitmen untuk menulis di blog (karena nulis ilmiah belum mampu) setidaknya 4 kali dalam sebulan tetapi nyatanya ini saja sudah mulai dirapel. Banyak kerjaan jadi modal utama alasan saya untuk tidak menulis, padahal aslinya ya malesssss alias nggak disiplin. Benar juga pribahasa tempoe doeloe, kalau ada niat pasti ada jalan, kalau males melakukan pasti banyak alasan.

Disiplin juga saya harapkan bisa terjadi untuk pertemuan koordinasi fakultas Fisip UPR supaya bisa dilaksanakan secara rutin. Paling tidak ada yang mendengarkan unek-unek kami, masalah tidak direspon atau jawabannya absurd itu masalah lain. Yang penting ada konsumsinya para pejabat bisa mendengar masukan atau kritikan demi masa depan fakultas yang lebih baik sehingga mendukung dosen untuk disiplin dalam melaksanakan tri dharma pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s