Penasihat Spiritual….

Kesannya seperti klenik, padahal penasihat spiritual itu hanyalah seorang pendamping yang selalu setuju dengan rencana kita dengan memberikan pertimbangan-pertimbangan. Bukan pertimbangan supaya tidak menjalankan rencana yang kita miliki karena ada resiko, tetapi pertimbangan yang membuat kita lebih berhati-hati. Bukankah semua aspek hidup ada resikonya? Jadi peran penasihat spiritual itu untuk memberikan dukungan dan memperkecil adanya kemungkinan resiko. Kalau penasihat spiritual terlalu berbau klenik, maka saya senang juga menyebutnya dengan mentor.

Saya punya dua orang mentor, yaitu mentor virtual dan mentor nyata. Mentor virtual saya Abah Hamid (www.abdul-hamid.com), beliau pehade lulusan Jepang (Doshisha kalau tidak salah ya Abah?…) dan selalu membuat tulisan-tulisan yang berguna dan memberi dukungan pada dosen-dosen yang kadang-kadang kehilangan arah seperti saya.

Wisuda dan Mbak Lina

Mentor nyata saya Mbak Herlina, seorang dosen super senior di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, seorang kandidat pehade di University of Central Lancashire, UK, yang meskipun ilmu pengetahuan, pengalaman dan karakternya sebagai dosen jauhhhhh di atas saya tapi sayangnya karena kebijakan ajaib pemerintah pangkatnya sama dengan saya yang masih cupu jadi dosen. Hal itu hanya gara-gara beliau dosen di Perguruan Tinggi Swasta dan saya seorang dosen di Perguruan Tinggi Negeri dimana pemerintah masih membeda-bedakan dosen negeri dan dosen swasta karena ada peraturan inpassing dosen. Inpassing itu sepanjang yang saya tau adalah penyetaraan kualitas dosen, dimana dosen negeri dianggap lebih baik daripada dosen swasta (wah, wah, wah…apa iya??????…..) Tapi kali ini saya nggak membahas masalah inpassing karena nggak ngerti tetapi lebih pada beliau adalah mentor, sahabat baik saya yang juga ikut bahagia melihat saya selesai sekolah dan diwisuda.

Kedua orang tersebut juga professor dalam perspektif saya meskipun belum professor secara administrasi alias sesuai peraturan dikti, tapi kedua mentor itu sudah berguna bagi masyarakat (pastinya saya sebagai anggota masyarakat). Saya ingat pesan mereka kepada saya, menjadi seorang pehade itu didasarkan pada latar belakang rasa keingintahuan terhadap sesuatu di dunia (bukan karena gelar keren atau biar bisa manggung jadi narasumber) dan harus punya rasa cinta pada mahasiswa seperti anak-anak sendiri supaya mahasiswa kelak berhasil (survive) di tengah masyarakat.

Banyak orang-orang hebat yang bisa kita jadikan mentor, tinggal niat kita untuk berusaha dan mencari orang-orang tersebut saja. Mentor yang baik tidak perlu ditanya apakah bersedia membimbing, tetapi mereka dengan sukarela memberikan bimbingan, pencerahan dan kedamaian bagi lingkungannya.

Selamat mencari mentor dan hati-hati bertemu dengan provokator….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s